Kamis, 03 Oktober 2013

STORY; " Melody Everyday Kachuusha"

Matahari hari ini begitu menyilaukan, lebih terik daripada hari biasanya. Ombak-ombak jauh disana berlari-lari ke tepian pantai, memecah bebatuan karang. Angin sepoi bersemilir dari arah laut, mengibas-ibaskan rambut indah Melody yang kala itu sedang bersepeda menuju rumahnya. Sambil bersenandung kecil Melody terus mengayuh sepeda berwarna putih itu. Matahari yang menyengat membuat wajahnya yang ayu penuh dengan keringat, berjatuhan. Sesampainya di rumah, Melody langsung berganti baju dengan t-shirt putih lengan pendek, namun ia tetap mengenakan rok abu-abu sekolahnya. Lekas ia pun mengambil sebotol pocari sweat dan langsung kembali mengambil sepedanya. Ia pun kembali mengayuh menuju tempat favoritnya, dimana sebuah pohon besar yang penuh dengan bunga bakau yang bermekaran, pasir putih mengelilinginya, serta ombak dan angin yang beradu lari menghampiri ke tepian. Melody membiarkan sepedanya tergeletak dan ia pun duduk disebuah bangku kayu usang, dan meneguk pocari sweat yang telah dibawanya. Tak ketinggalan mp3 kesayangannya ia bawa dan menempelkan earphone-nya ke kedua telinganya. Ia pun memutar lagu kesukaannya, sebuah lagu dari Idol Group asal jepang AKB48-Everyday Kachuusha. Nada-nada, irama, dan suara dari lagu tersebut membuat Melody terbuai menikmatinya. Sampai-sampai ia tak menyadari kepalanya ikut bergoyang bersama irama, dan hembusan anginpun menggeraikan rambut panjangnya sehingga menutupi sebagian wajahnya. Bersama hembusan angin dan deburan ombak, seorang laki-laki berjaket biru tanpa resleting, membawa sebuah ransel besar di punggungnya, dan usianya yang sebaya dengan Melody kira-kira berkisar 17 tahunan, menghampiri Melody yang masih terbuai dengan lagu AKB48 itu. “Ehm... maaf, permisi!” seru laki-laki itu. Tak ada jawaban dari Melody, suara mp3-nya yang lebih keras mengalahkan suara laki-laki itu. Ia pun mencoba mengubris Melody kembali. “Maaf! Saya mau bertanya...” Melody tetap tak menyahut suara lembut laki-laki itu yang masih kalah oleh suara mp3-nya. Maka karena tak mendapat respon, laki-laki itu pun menggoyangkan tubuh Melody dan membuat Melody terkejut setengah mati. “Maaf... maaf... saya nggak bermaksud,” seru laki-laki berjaket biru itu. “Uuh... bikin kaget aja,” balas Melody. Melody tak dapat melihat dengan jelas siapa yang membuatnya kaget, rambut yang menutupi wajahnya pun ia sibakan. Saat sadar siapa yang ada dihadapannya, Melody terpana dengan makhluk yang sedang menatapnya. Begitu pun sebaliknya sang laki-laki menatap dan lebih terpana kepada Melody yang nyaris sempurna dimatanya. Untuk sesaat mereka berdua bertukar pandang. Lagu yang Melody dengar pun berhenti, namun Melody masih terbuai, terbuai karena ketampanan laki-laki dihadapannya. ‘Duar’ Hantaman ombak yang memecah karang menyadarkan keduanya. Mereka berduapun gugup dan malu satu sama lain. Dalam keadaan masih gugup, laki-laki yang masih berdiri di depan Melody itu kembali bertanya pada Melody. “Maaf kalau mengganggu dan mengagetkan kamu. Saya cuma mau nanya, kalau alamat ini dimana ya?” Dengan malu-malu Melody memerhatikan kertas alamat yang disodorkannya. Ia mengamatinya dan lekas menjawab. “Kalau ini aku tahu tempatnya.” Jawab Melody sambil tersenyum. Melihat Melody tersenyum, jantung laki-laki itu pun berdetak kencang, karena tak pernah sebelumnya ia melihat senyuman semanis itu. “Ee, kalau begitu boleh saya minta diantarkan kesana,” pintanya gugup. “Tentu. Dengan senang hati.” Dengan anggunnya Melody meraih sepedanya yang tergeletak. “Kita naik sepeda, ya!” Laki-laki itu terbelalak. “Nih, kamu yang bawa. Nanti aku yang dibonceng,” seru Melody seraya menyerahkan sepedanya. Tanpa banyak komentar laki-laki itu mengambil sepeda dari tangan Melody dan lekas menaikinya. Dari arah belakang Melody pun menaiki sepedanya sambil berpegangan di pundak laki-laki itu. Sungguh luar biasa, kelembutan tangan Melody begitu terasa di kulit si laki-laki, serasa kelembutan itu menembus jaket birunya yang tebal. Jantung laki-laki itu menjadi semakin berdetak kencang. “Kita lewati jalan raya ini aja. Lurus ke depan sampai ketemu rumah besar bercat merah. Nah itu rumahnya,” jelas Melody. Laki-laki itu mendengarkan dan mereka pun meluncur melewati jalanan raya yang tengah lengang. Melody tersenyum diterpa angin, tangannya masih memegang pundak laki-laki itu. Dalam hati Melody mengagumi wajah laki-laki itu dan dalam hati juga ia menyenandungkan lagu “Heavy rotation”. “I want you, I need you, I love you,...” serunya dalam hati. Mereka berdua masih bersepeda, angin, matahari, dan ombak berkombinasi mengiringi mereka berdua. Namun keduanya saling berdiam diri tanpa percakapan. Menyadari hal itu Melodypun membuka topik pembicaraan. “Ngomong-ngomong nama kamu siapa?” tanya Melody. “Aku Anggira. Kamu sendiri?” laki-laki bernama Anggira itu balik bertanya. “Namaku Melody...” jawab Melody. “Wah... nama yang cantik banget. Secantik orangnya.” Setelah kata itu terlontar, wajah Melody pun memerah dan jantung Anggira juga semakin berdetak kencang. Angin berhembus, hening sesaat. Kembali Melody melontarkan pertanyaan, dan mereka pun terlibat dalam sebuah percakapan panjang dan menyenangkan. Tak sangka baru saja mereka berkenalan, namun Melody si gadis cantik dan Anggira si laki-laki tampan berjaket ini bisa langsung akrab. *** Sepeda yang mereka tumpangi berhenti di halaman depan sebuah rumah besar bercat merah. Persis seperti yang diucapkan Melody dan benar rumah inilah yang dituju oleh Anggira. Melody dan Anggira turun dari sepeda dan diwaktu bersamaan seorang nenek yang masih cantik wajahnya keluar dari rumah itu. Nenek itu mengamati wajah Anggira dengan seksama. “Anggira...!!!” seru nenek itu. Anggira pun langsung menghampiri neneknya diikuti dengan Melody dibelakangnya. Anggira memberi salam, mencium tangan sang nenek, dan memeluknya karena kelewat rindu. Dengan berseri-seri sang nenek menyambutnya sukacita. Sungguh sudah lama rasanya sang nenek tidak bertemu dengan cucunya, Anggira. Terakhir ia melihat Anggira saat lebaran, itu pun lebaran dua tahun sebelumnya. Sekarang cucunya itu sedang berdiri dihadapannya, perawakannya menjadi jauh lebih tinggi dan terlihat dewasa. Terlepas dari Anggira, sang nenek tertuju pada Melody yang ada disebelah Anggira. “Imel... Kamu yang mengantar Anggira kesini?” Melody mengangguk, setelah itu ia pun mencium tangan sang nenek. “Wah... Nenek senang sekali kalian ada disini. Ayo masuk, nenek akan menyiapkan makanan dan minuman. Pasti kalian lelah. Ayo!” Melody dan Anggira pun masuk kedalam rumah dibarengi oleh sang nenek. Hawa didalam rumah begitu sejuk, padahal diluar sangat panas. Merekapun duduk di sofa, beristirahat. Sementara itu Anggira melepas jaketnya karena kegerahan. Tak lama setelah itu nenek Anggira kembali dengan berbagai makanan ringan dan minuman di tangannya. Tak terasa matahari menciptakan lukisan senja di ufuk barat sana. Angin dan ombak pun semakin ganas saja untuk mencapai ke tepian. Denting jam tua di rumah nenek Anggira menyadarkan Melody bahwa ia harus segera pulang. Maka dengan berat hati ia pun pamit untuk pulang. Setelah bersalaman dan memastikan melihat wajah Anggira untuk terakhir kalinya Melodypun meluncur dengan sepeda putihnya. Di rumahnya Melody tak bisa berhenti membayangkan wajah Anggira, ketampanannya, kebaikannya, dan keramahannya, dan semuanya terus berputar-putar di kepalanya, tak bisa terlupakan. “Apakah ini jatuh cinta?” tanyanya dalam hati. *** Beberapa hari kemudian... Mentari sinari ruang kelas, hawanya sangat tepat untuk melamunkan seseorang. Melody duduk diam, membayangkan wajah Anggira ditengah sinar matahari. Melody terbuai . Tiba-tiba bunyi bel tanda pulang berbunyi. Ia bingung padahal jam pulang sekolah masih lama. Selang bunyi bel, samar suara dari pengeras suara mengumumkan bahwa sekolah dipulangkan lebih awal karena suatu hal. Tak ambil pusing Melody pun dengan gesitnya menuju mengambil sepedanya. Dibawah langit cerah Melody mengayuh sepeda menerobos kerumunan anak lainnya yang tengah berjalan kaki. Angin berhembus, mengibas dan mengibar-ibarkan rambut Melody. Setiap kayuhan pedal yang ia ciptakan, membuat suatu irama yang sejalan. Sejalan dengan pikirannya, bayangan Anggira terkelebat di otak Melody, dan membuatnya rindu kepada wajah tenang dan tampan Anggira. Ia pun berandai-andai, pikirannya menerawang sampai ke langit biru sana. ‘Apakah aku akan bertemu dengan Anggira lagi?’ Sinar matahari bersatu padu dengan hembusnya angin, serta suara ombak yang tenang mengalun merdu di telinga Melody. Di tepian pantai berdiri seorang laki-laki yang menghadap ke laut. Dimana laki-laki itu seakan tidak asing bagi Melody. “Anggira...” serunya. Melody langsung menghempas sepedanya dan menghambur ke dekat Anggira. Ia berlari, dan angin kembali menghembusnya, menggerai rambutnya. Saat tepat didekat Anggira, rambut yang tergerai itupun menutupi wajahnya. Menyadari hadirnya Melody, Anggira berbalik badan. Ia tersenyum. Melodypun tersenyum juga. Bersama hembusnya nafas, ibarat ingin menyekat, Anggira mendekat. Ia menyibakan rambut yang menutupi wajah cantik Melody. Bibirnya pun ia dekatkan ke samping telinga Melody. “Sungguh..., Sejak awal bertemu dengan kamu. Aku sudah jatuh cinta, Melody.” Melody tertegun, jantungnya seakan berhenti berdetak. Diam. Deburan ombak lautan mendekat, memecah keheningan. Angin pun berhembus. Mata Melody menatap wajah Anggira dalam-dalam. Seakan memberikan jawaban yang penuh dengan kemisteriusan. Wajahnya yang lembut diterpa angin. Ia tersenyum. Tangannya dengan gemulai bergerak, mengacak-acak rambut Anggira. Iapun berlari dengan iringan tawanya yang begitu merdu. Anggira terkesiap, lalu menyusul Melody yang tengah berlari. Ombak berbuih putih menerjang lembut kaki-kaki Melody dan Anggira yang berlarian di tepian laut. Mereka bercanda gurau, berlari kesana-kemari, saling mencipratkan air, tertawa dengan bebasnya dibawah matahari. Seakan laut yang sangatlah biru, yang menyerupai kasih sayang, yang mengajari suatu arti dari keabadian. Keabadian antara Melody dan Anggira. Peluh mereka berjatuhan. Mereka pun merebahkan badan ke atas pasir pantai, menantang langit biru yang penuh dengan gumpalan awan putih disana. Cahaya matahari menyoroti wajah mereka berdua yang tersenyum dan kelelahan. “Hari yang begitu indah,” desis Anggira. Melody beranjak, namun tetap duduk sambil menerawang ke laut yang jauh. Anggira mengikuti, senyumannya terukir. “Haha,.. Melody, Melody, sejak pertama bertemu sama kamu. Rambut kamu selalu menutupi wajah. Kan sayang kalau tertutup begitu, jadinya orang-orang nggak bisa melihat wajahmu yang cantik.” Melody memalingkan wajah ke arah Anggira. Wajahnya masih tertutupi rambutnya yang tergerai. Dengan hati-hati dan lembut tangan Anggira menyibakannya. Keduanya pun bertukar pandang, lalu tertawa lepas berbarengan. Angin kembali berhembus. *** Dari balik jendela kamarnya, Melody memandangi rasi-rasi bintang di langit malam, cerah dan bersinar. Iseng-iseng ia mencoba menghubungkan titik-titik terang itu agar membentuk suatu rasi. Satu titik Melody hubungkan dengan titik lainnya, hingga ia pun menyadari kalau rasi yang dibentuknya membentuk wajah Anggira. Wajah itu begitu nyata, matanya, senyumnya, sangat indah, apalagi ditambah dengan hiasan kerlipan-kerlipan bintang lain disekitarnya. “Anggira...” ia tersenyum. Teriakan panggilan dari sang ibu dibawah memaksa Melody harus meninggalkan bayangan wajah Anggira. Secepat mungkin Melody menuruni tangga dan segera menghampiri ibunya. Setibanya, Melody tercengang, Anggira yang dibayangkannya dan sang nenek sudah ada dihadapannya. “Kesini, mel. Ini ada nenek Kusuma sama cucunya. Mereka mau bersilaturahmi sama kita,” seru sang ibu. Mengetahui gelagat cucunya, sang nenek mempersilakan Anggira untuk bercakap-cakap berdua dengan Melody diluar. Dengan perasaan sangat senang Melody pun menemani orang dambaannya itu. Saat mereka duduk di kursi teras, angin malam menghembus, membuat rambut Melody tergerai, dan menutupi wajah Melody. Maka dengan tidak ragunya Anggira pun menyibakkannya kembali. Keduanya tersenyum. “Terima kasih,” desis Melody. Anggira menganggguk, “Mm, ngomong-ngomong nenek ada keperluan katanya sama ibu kamu. Terus aku diajak, ya aku nggak mungkin nolak. Kan sekalian bisa ketemu sama kamu.” “Ooh...” Melody memandang wajah Anggira, “Ngii! ngomong-ngomong aku mau tanya, sebenarnya kamu itu ada tujuan apa sih kesini?... Eu, maksudku datang ke Bandung!” Melody menekankan. Seketika tampang Anggira berubah menjadi sedih. Seakan ucapan yang dilontarkan Melody adalah sesuatu yang menyakitkan. “Eu,.. eu,.. maaf. Apa ucapan aku menyinggung kamu?” seru Melody, ia kalut. “Nggak apa-apa kok, mel. Kalau kamu mau tahu, sebenarnya datangnya aku kesini,...” Anggira berhenti sesaat memandang lurus ke depan, ke lautan, “...adalah sebuah pelarian.” “Apa? Pelarian! Maksudnya?” sergah Melody dalam hati. Anggirapun mulai bercerita. “Aku punya mimpi untuk bersekolah ke universitas di Jepang. Maka dari itu aku ikut kelas akselerasi, ku pikir dengan masuk kelas akselerasi maka kemampuanku pun bisa jauh lebih baik dari orang lain. Sehingga aku bisa dengan mudah masuk ke universitas itu. “Beberapa waktu lalu, aku pun ikut tes masuk universitas tipe kelas akselerasi. Dan nggak lama setelahnya pengumuman kelulusannya pun diumumkan...” suara Anggira terdengar serak. Sementara Melody berusaha menjadi pendengar yang baik. Ia begitu seksama mendengar cerita dari mulut Anggira. “... Namaku nggak terdaftar di pengumuman itu. Aku sedih.” Suaranya semakin parau. “Apalagi ayahku, dia lebih sedih lagi. Dialah alasan aku mempunyai mimpi untuk sekolah ke Jepang dan dia sangat menginginkanku sekolah disana, karena katanya bisa sekolah di Jepang adalah impian dari almarhum ibu. “Dulu ibu sangat ingin bersekolah ke Jepang, namun hal itu nggak bisa terrealisasikan. Makanya mimpi ibu pun dibebankan ke aku. Tapi kayanya itu nggak akan pernah terwujud karena aku udah gagal. “Karena kegagalan itu ayah pun menjadi sering melamun. Dan aku nggak tega kalau terus-menerus melihat ayah sedih. Makanya aku memutuskan untuk pergi kesini sekedar menenangkan diri dan mencoba untuk melupakannya.” Anggira menghembuskan nafas panjang. Melody yang begitu fokus mendengarkan cerita Anggira, tak merasa kalau air mata berlinang di kedua pelupuk matanya. Anggira tersenyum, ia pun mengusap air mata Melody. “Lho! Kok kamu yang nangis? Udah dong, aku kesini kan mau bersenang-senang. Bukannya malah bersedih ria.” Ucap Anggira. “Habisnya cerita kamu menyentuh banget. Rasanya aku bisa ngerasain apa yang ada di hati kamu, Anggira.” “Nggak apa-apa kok, mel. Sekarang, kesedihan itu mulai hilang. Dan yang membuatnya itu karena kehadiranmu. Aku senang banget bisa bertemu sama gadis kaya kamu.” Melody menunduk, ia mengambil nafas panjang-panjang. Ia merasa ia harus tegar, setegar Anggira. Maka dengan melupakan cerita sedih Anggira, Melody menegakkan kepala dan pembicaraan dengan topik yang lain pun dimulai. Kini keceriaan dan senda gurau diantara mereka pun semarak kembali. Dan lebih semarak lagi dengan ditemani oleh terangnya sinar bulan dan bintang-bintang. *** Melody bersama sepedanya melesat di pagi hari, menerabas embun-embun dan udara dingin yang menghantui. Topi pantai yang dikenakannya kokoh tak tergoyahkan oleh angin yang menerpa. Semangat menjalani harinya membuat ia tak menghiraukan seberapa dinginnya pagi itu. Sepeda yang membawanya melesat, dan berhenti seketika saat sampai didepan rumah Anggira. Maka dengan suara lantang dan begitu semangat ia menyoraki nama Anggira. Tak lama setelah itu sang pangeran hati Melody pun keluar, ia kebingungan. “Hari ini aku libur sekolah. Temenin aku jalan-jalan, yuk! Aku tahu tempat yang bagus,” serunya. Anggira tak bisa menolak, baginya bisa selalu dekat dengan Melody adalah sesuatu anugerah. Dengan semangat 48 Anggira pun mengambil alih sepeda. Sementara Melody sendiri diboncengnya dibelakang. Embun pagi, ombak tenang, serta mentari yang masih malu-malu pun menyaksikan kebersamaan mereka yang begitu harmonis. Bersama senyuman yang selalu merekah, mereka tak hentinya mengubris satu sama lain. Jari-jari lentik Melody tak ayalnya seperti menari di udara menunjukan arah pada Anggira ke tempat yang Melody maksud. Mereka dengan sepedanya menghilang dari jalanan raya, dan terus mengayuh ke jalanan yang berbatu, dan masuk ke dalam sebuah taman dibalik tumbuhan sulur. Mereka berhenti, Melody tersenyum sumringah. Dan Anggira terkesima dengan taman tersebut. Sebuah taman kecil yang bisa dibilang juga sebagai gua yang penuh ditumbuhi tanaman sulur serta bunga-bunga liar bermekaran. Pasirnya lebih halus dan putih dari pasir pantai manapun. Udara di taman itu lebih sejuk ketimbang tempat lain disekitarnya. Dan cahaya matahari tidak panas, lebih terasa hangat. Dan ombak-ombak yang berlarian di pantai bersenandung ria memecah karang. Di angkasa sana, langit biru dengan sedikit awan, dan terdapat burung layang-layang putih yang berterbangan. “Melody, ini adalah tempat yang menakjubkan!” “Iya, ini adalah tempat terbaik di dunia. This is my secret garden, karena sebelumnya belum pernah ada seorang pun yang menjamahnya.” Kata Melody sambil menghirup udara yang sejuk. Dengan iseng Anggira mengambil topi pantai Melody dan membawanya lari ke arah pantai. Melody terkejut dan tentu langsung mengejar Anggira. Merekapun saling berlarian, berhambur dalam keceriaan. Tak terasa waktu begitu cepat, dan pagi pun berubah menjadi siang. Suasana di taman itu menjadi lebih hangat ketimbang pagi tadi. Rasa lelah pun menghantui mereka. Peluh dan muka memerah menandakan kalau mereka sudah sangat kecapekan. “Dimana kita bisa ngedapetin minuman?” tanya Anggira, peluhnya berjatuhan. “Mm, kalau kita beruntung biasanya sih disekitar luar taman ini ada penjual es krim,” jawabnya, “ya udah biar aku yang beli, ya!” “Eits. Jangan! Aku aja yang belinya, putri cantik kaya kamu seharusnya duduk aja disini,” sergah Anggira. “Ya udah. Jaraknya cukup jauh, lho. Jadi kamu bawa sepeda, ya!” “Oke, no problem. Tunggu sebentar, ya.” Kata Anggira seraya melesat dengan sepedanya dan menghilang dibalik tumbuhan sulur. Melody mengeluarkan mp3-nya dan memasangkan earphone-nya, dan langsung memutar lagu dari AKB48-kimi no koto ga suki dakara (karena ku suka dirirmu). Alunan musik bersatu dengan angin laut yang berhembus. Damai sekali. Setelah lagu itu habis Melody pun memutar lagu lain dari artis yang sama dengan judul yang berbeda, Baby! Baby! Baby! Sekejap Anggira sudah berada disamping Melody, ditangannya pun sudah ada sekantung es krim yang dibelinya. Maka mereka pun menikmati es krim itu dengan lahapnya, sambil bertukar pandang, dan saling tersenyum sesekali. “Oh iya, mel. Tadi waktu beli es krim aku ketemu tukang aksesoris keliling. Dan aku beliin ini buat kamu.” Tangan Anggirapun merogoh sesuatu didalam kantung plastik. Melody terkejut bercampur senang. “Bando ini buat kamu. Biar rambut kamu ini nggak menutupi wajah kamu yang cantik. Jadi semua orang bisa melihatnya dan mengaguminya deh. Aku pakein, ya.” Melody tersenyum, mengangguk. Anggira pun memakaikan bando putih dengan sedikit blink-blinknya itu ke rambut Melody. Keduanya terdiam saling terpana satu sama lain. Anginpun menghembus, namun kali ini hembusannya tak membuat rambut Melody tergerai dan menutupi wajahnya. Suara nada dering dari ponsel Anggira membuyarkan keduanya. Anggira pun mengangkat ponselnya itu, sementara Melody terus asyik dengan es krimnya. Samar-samar suara dari ponsel itu terdengar begitu serius, maka Anggira pun menjauh dari Melody. Tak lama kemudian Anggira selesai menelepon. “Mel! Kita pulang, yuk.” Pinta Anggira. “Lho, kenapa?” “Hm, nggak apa-apa. Tapi kita kan udah terlalu lama banget disini. Aku takut nenek kesepian di rumah,” suara Anggira begitu mencurigakan dan terdengar cemas. “Ayo, Melody!” seru Anggira yang sudah siap diatas sepeda. Melody menyusul dan langsung naik ke sepedanya. Mereka melesat dengan cepat. Disepanjang perjalanan Melody memiliki perasaan tidak enak, ia cemas dengan sikap Anggira yang tiba-tiba berubah. Di otaknya pun berputar-putar pertanyaan yang tak bisa dijawabnya sendiri. Merekapun sudah sampai didepan rumah Anggira. Tanpa pamit dan berbasa-basi dengan Melody, Anggira langsung meninggalkan Melody dan masuk kedalam rumahnya. Melody yang melihatnya menjadi sedikit sedih. “Kenapa dia? Wajahnya kalut,” desah Melody seraya berlalu dengan sepedanya. Keesokan harinya cuaca tidak seperti biasanya, tak tampak langit biru, hanya ada gumpalan awan hitam dimana-mana. Angin tak selembut kemarin, sekarang hembusan anginnya terasa kasar dan ganas. Dan ombak, deburan demi deburannya terdengar lebih keras, sepertinya amarahnya telah meluap untuk memecah karang-karang. Tak beda dengan cuaca hari ini, suasana hati Melody pun gundah gulana. Setelah seharian ini ia tak melihat batang hidung Anggira. Ia juga tak bertutur sapa dengannya. Dua hari tiga hari Anggira menghilang dari kehidupan Melody. Ia menjadi resah dibuatnya, sebenarnya apa yang telah terjadi pikirnya juga. Tak ada kabar tak ada rupa dari Anggira. Melody pun putus asa, hari-harinya ia habiskan hanya berdiam diri didalam kamar. Sambil mendengarkan lagu-lagu dari AKB48, seperti Boku no sakura (bunga sakuraku), Sakura no hanabiratachi, Sakura no shiori (pembatas bunga sakura) dan lagu-lagu sedih lainnya. Sesekali ia juga menangis karena merindukan kehadiran Anggira. *** Sampai suatu hari... “Imel... Melody... Ada nak Anggira nih...” teriakan ibu Melody mengejutkannya. “Hah! Anggira?!” serunya bersemangat. Secepat kilat Melody membenahi dirinya, ia bercermin, merapikan rambutnya, dan memakai bando pemberian Anggira. Senyuman Melody terukir diwajahnya, dan dengan perasaan yang berbunga-bunga Melody menghampiri Anggira yang sedang berdiri diluar rumah. Dengan lembutnya Melody menegur Anggira. “Anggira...” Melody tersenyum dan menghelakan nafas. Anggira berbalik, wajah yang dirindukan Melody pun bisa dilihat lagi. Ia tersenyum kecil, namun senyumannya itu tak dapat menyembunyikan kesedihannya. “Hai! Mel, kamu berantakan banget,” ucap Anggira. “Anggira, selama ini kamu kemana aja?” “Maaf mel, udah bikin kamu kaya gini,” ia melanjutkan bicara, “ sebenarnya ada yang ingin aku omongin ke kamu...” Anggira semakin murung. Melody tertegun, sepertinya ia sama sekali tak ingin mendengarkan apa yang akan diucapkan oleh Anggira. “Begini, waktu itu saat kita di secret garden... Ayahku menelepon tentang perihal ke Jepang, dan aku... aku harus buat pilihan, selama beberapa hari ini aku menghilang karena aku harus memilih dan memikirkan ini matang-matang.” Mata Melody menjadi panas, air matanya hendak berlinang, namun ia tahan. “Aku sudah mutusin. Mel... aku akan pergi...” Mendengar kalimat itu Melody lemas, dia kalah. Air matanya pun tak terbendung lagi, matanya berlinangan. Membasahi kedua pipinya. “Maksud kamu apa?” “A... aku harus ke Jepang, Mel. Dan ninggalin...” Belum selesai Anggira berkata, Melody langsung memotongnya, “Kamu jahat! Kamu datang ke kehidupan aku tiba-tiba, dan ngebuat aku suka sama kamu. Dan sekarang, segampang ini kamu mau pergi ninggalin aku. Aku sungguh nyesel kenal sama kamu. Aku benci sama kamu!!!” Melody melampiaskan kesedihan dan amarahnya kepada Anggira. Ia medorong tubuh Anggira hingga hampir Anggira tersungging. Ia juga melepas bando pemberian Anggira dan melemparkannya begitu saja kehadapan Anggira. Setelah itu Melody menghambur, berlari dengan berderaian air mata menuju kamarnya. “Melody!” teriak Anggira. Tak ada sahutan. Hening. Dikamarnya Melody menangis tersedu-sedu. Air matanya terus berlinangan. Ia begitu sedih dan kecewa dengan Anggira. Padahal ia telah memberikan perasaannya kepada laki-laki itu. Tapi Anggira membuat Melody menjadi seperti ini. “Kenapa Anggira???” Isaknya dan membenamkan wajahnya kedalam bantal. Melody enggan melakukan apapun. Ia terlalu sedih karena Anggira. Sekarang Melody jarang menikmati hangatnya sinar matahari, lembutnya hembusan angin, dan suara deburan ombak di pantai, dan yang terburuk ia tak lagi melihat wajah Anggira. Hembusan angin laut menerabas kedalam kamar Melody, bersama itu Anggira sudah berdiri dibawah. Melody melihatnya dibawah kamarnya, Anggira sedang melakukan segala cara untuk menemui Melody. Anggira memohon, memberi isyarat, dan kode-kode lainnya. Namun itu sepertinya tak cukup untuk meluluhkan Melody. Hari berikutnya Anggira melakukan hal yang sama, namun Melody tak tergubris sedikit pun. Ia hanya memperhatikan laki-laki itu sebentar dan megacuhkannya. Keesokannya Melody mencoba melihat keluar, namun ia tak menemukan Anggira dibawah. “Dia nggak bersungguh-sungguh buat ngelakuin itu. Aku benci kamu, Anggira!” teriak Melody, air matanya kembali berlinang. Tepat setelah itu, seseorang mengetuk kamar Melody dan suara yang sangat Melody rindukan terdengar. “Mel, Melody. Ini aku, Anggira. Aku sungguh minta maaf karena harus ngelakuin ini. Tapi... tapi... Melody, kalau kamu mau ketemu aku misalnya. Mungkin besok adalah terakhir kalinya kita bisa ketemuan. Jadi aku akan nungguin kamu. Tapi kalau nggak... maaf, mel.” Suara indah itu berhenti. Melody pun duduk memeluk lutut dan menangis kembali, tersedu-sedu. Air matanya yang terlinang mengiringi kepergian Anggira. *** Alunan lagu dari AKB48-Everyday kachuusha bergeming disekeliling Melody. Melody berada di tepi pantai sendirian. Pasir, angin, dan ombak disana sudah tidak asing baginya. Ia melirik kesana-kemari, mencari-cari objek yang bisa ia lihat. Pasir, ombak, angin, pasir, ombak, angin, hanya itu yang dapat ditemukannya. Hingga ia melihat dirinya sendiri yang lain sedang duduk dan Anggira menghampirinya saat pertama kali bertemu. “Inikan kaya waktu itu?!!” Melody terus memperhatikan kejadian yang pernah dialami olehnya itu. Semuanya begitu mirip. Semua berjalan dengan semestinya. Kemudian Melody berpindah tempat, sekarang dia berada di secret garden-nya. Ia melihat dirinya yang lain lagi tengah bersama Anggira. Kemudian semua berganti kembali, sekarang ia melihat dirinya sedang bersepeda dengan Anggira. Dengan cepat Melody berpindah tempat lagi, ke kamarnya sendiri, dan melihat dirinya sedang menangis. Semua sangat sama dengan apa yang telah dialaminya ini bersama Anggira. Tak terasa tubuh Melody berpindah tempat lagi, sekarang ia berada tepat dihadapan Anggira. Anggira yang sedang berdiri dibawah ruang kamarnya yang mencoba meminta maaf pada dirinya sendiri. Melody mencoba menyentuh wajah Anggira, namun tangan lembutnya itu transparan, dan tak dapat menyentuh Anggira. Setelah itu angin laut berhembus, dan membuat tubuh Anggira perlahan-lahan berubah menjadi butiran-butiran pasir, dan tertiup perlahan, dan akhirnya habis menghilang. “Nggak... Anggira...” teriak Melody. Angin kembali berhembus, deburan ombak terdengar di telinga Melody begitu jelas sekali. Sekarang semua yang ada disekeliling Melody perlahan berubah menjadi butiran-butiran pasir dan tertiup, semua berterbangan. Butiran-butiran pasir itupun membentuk seperti angin tornado dihadapan Melody. Dan memperlihatkan kejadian-kejadiannya saat bersama dengan Anggira dengan cepat. Sangat cepat sekali, semua berjalan seperti kaset kusut yang terus diputar. Cepat sekali, dan alunan lagu AKB48-Everyday kachuusha berputar bersamaan, memilukan telinga Melody yang mendengarnya. Tak berhenti disitu, kini semua bayangan dan butiran-butiran pasir itu menyatu dan membentuk wajah Anggira yang murung. Sangat murung sehingga Melody pun terlihat sedih. “Anggira...” serunya seraya akan menyentuh wajah itu. Saat tangannya menyentuh, wajah Anggirapun hancur. Melody terbelalak. Semua bertebaran dan sekeliling Melody menjadi gelap gulita. Tak lama setelah itu, seketika dari arah depan munculah cahaya yang didalamnya terdapat sosok Anggira yang hendak pergi, pergi meninggalkan Melody, untuk selamanya. Cahaya itu pun mendekat, mendekat lagi, dan mendekat lagi, bahkan dengan cepatnya menabrak Melody. Dan menghempasnya, Melody hanya bisa berteriak sejadi-jadinya. “TIDAAAK...” Melody terbangun, syukurlah ternyata semua yang dilihatnya itu hanya mimpi. Mimpi yang paling buruk di kehidupannya. Matahari pun menyilaukan Melody, hari telah siang. Keringat dingin membasahi tubuh Melody. Ia pun langsung teringat pada Anggira. “Aku harus cepat bertemu Anggira!” Secepat kilat ia menghambur, berlari mengambil sepeda putihnya. Ia pun melesat. Dibawah matahari Melody mengayuh pedalnya dengan semangat dan kesedihan. Ban yang dicakram menimbulkan bunyi ngilu, Melody langsung menjatuhkan sepedanya dan berlari ke depan pintu rumah Anggira. “Anggira... Anggira... ini aku Melody! Anggira buka pintunya!” teriak Melody sambil menggedor-gedor pintu. Pintu pun terbuka, namun hanya ada nenek Kusuma yang keluar. Mata nenek Kusuma berbinar. “Nek, Anggira mana? Aku mau minta maaf karena...” Nenek Anggira memotong perkataan Melody, “Imel, Anggira udah pergi... Ini! Dia menitipkan sesuatu untuk kamu,” serunya seraya memberikan kotak berwarna biru itu. Melody meraihnya, dan membuka kotak itu. Terdapat sebuah bando putih pemberian Anggira waktu itu dan sepucuk surat. Melody pun membacanya. ‘hai, Melody. Mungkin saat kotak ini ada di tangan kamu, aku udah pergi. Aku Cuma mau bilang kalau aku minta maaf karena aku harus memilih jalan ini. Aku akan pergi ke jepang, ternyata aku lulus dan masuk kedalam tipe “spesial mahasiswa” ;) aku senang, tapi aku juga sedih karena harus berpisah sama kamu, mel. Kamu boleh benci sama aku karena ini. Tapi aku melakukan semua ini untuk impian aku, ibu dan ayah. Semoga kamu mengerti. Anggira’ Air mata Melody menetes dan membasahi surat dari Anggira. “Sejak kemarin Anggira terus nungguin kamu, mel. Bahkan dia menunda keberangkatannya buat nungguin kamu. Tapi hari ini Anggira udah nggak bisa menunda lagi dan harus terbang ke Jepang secepatnya.” Melody kembali berlinangan air mata, “nek aku mau nyusul Anggira. Aku harus ketemu dia untuk terakhir kalinya.” “Nenek nggak yakin, tapi kamu lihat aja di dermaga. Apa dia udah berangkat atau belum. Dia akan pulang dulu ke tempat ayahnya. “ Melody berlari, mengambil sepedanya, dan mengayuh, dengan berlinangan air mata ia tak berhenti untuk berharap. Otaknya kini dipenuhi dengan isi surat Anggira dan ucapan sang nenek. Melody terus mengayuh, melawan teriknya matahari dan terpaan angin. Dermaga terlihat sepi. Tak ada satu pun kapal yang merapat. Melody menerawang kesana-kemari namun tak ada kapalnya jua. Sementara ditengah lautan sana mengambang sebuah kapal yang sudah jauh. Melody lemas. Matanya pun semakin berlinangan. Dipegangnya erat-erat bando pemberian Anggira itu, ia pun berteriak sejadinya. “ANGGIRA... ANGGIRA... “ Laut yang biru, matahari terasa hangat, pasir putih, dan deburan ombak, semua menyatu dengan suara lembut seseorang yang datang dari samping Melody. “Melody...” Mata Melody terbelalak, jantungnya pun berdebar, hanya membutuhkan waktu sepersekian detik kepalanya pun menoleh. Maximun high tention. Anggira berdiri tegap sambil tersenyum kepada Melody. Bibir Melody bergetar, dengan rasa yang senang sekali ia segera menghampiri Anggira. Langsung diraihnya kedua tangan Anggira itu. “Maaf karena aku egois. Dan nggak ngasih kesempatan buat kamu ngejelasin semuanya,” seru Melody. Anggira mengusap wajah Melody dan menghapus air mata yang membanjirinya, sentuhannya sangat lembut, ”nggak apa-apa, mel. Sebenarnya aku sangat berat memutuskan ini. Tapi mau bagaimana lagi. Ini impianku, ayah, dan almarhum ibu. Aku nggak mungkin dapat kesempatan ini untuk kedua kalinya.” “Haah...” Melody menghela nafas. “Aku mulai ngerti sekarang. Kita semua punya impian dan mimpi, dan kita harus meraihnya, bagaimana pun caranya. Dan begitu juga dengan kamu, kamu bermimpi sekolah ke Jepang. Rasanya nggak berhak banget dan egois kalau aku menghalangi kamu untuk meraih mimpi itu.” “Kamu memang gadis yang istimewa. Kamu janji ya sama aku, agar kamu juga melakukan apapun untuk meraih impian dan mimpi kamu. Kejar sampai kamu meraihnya, Melody.” Kata Anggira. Angin berhembus dan membuat rambut Melody tergerai menutupi wajahnya. Anggira pun meraih bando yang Melody pegang dan menyibakkan rambut indah Melody. Ia memakaikannya. “Hehe, satu lagi ingat ya. Pakai terus bando ini biar wajah cantik kamu ini nggak tertutupi. Kan sayang kalau wajahnya sang putri cantik ini nggak bisa dilihat orang,” Anggira tersenyum. “Oke, bos!” *** Anggira melambaikan tangannya di pinggiran geladak kepada Melody. Laut serta angin pantai membawa kapal Anggira semakin jauh ke tengah sana. Namun Anggira tak berhenti untuk terus melambai. Begitu pun Melody, ia melambaikan tangannya juga, senyumnya merekah, dan angin mengibar-ibarkan rambutnya. Ia terus memandang kapal Anggira hingga hilang lebih jauh menuju cakrawala ujung sana. Melody kembali menjadi Melody yang ceria. Dengan sepeda putihnya dan bando yang menempel di kepalanya. Ia melawan, menerabas, hembusan angin, dan teriknya matahari. Dan Anggira pun menjadi bagian dari hidupnya yang paling berharga. Dan bando pemberian Anggira, selalu ia pakai setiap hari dan Melody pun menjelma menjadi gadis yang “berbando setiap hari” (everyday kachuusha). Dengan semangatnya Melody bersepeda dan bando yang ia pakai selalu meningatkannya pada Anggira, semua impian, dan mimpi-mimpinya. Dan bagaimana ia harus berusaha dengan keras untuk meraih semua mimpi-mimpinya itu, seperti Anggira yang telah berusaha dengan sekuat tenaga meraih mimpinya untuk sekolah ke Jepang. Matanya memandang lautan yang biru. Tiba-tiba ia terhenti saat sebuah kertas selebaran menerpa wajahnya. Ia pun membaca dengan seksama selebaran tersebut. “Audisi pencarian member generasi pertama sister group AKB48 di Indonesia, JKT48... segera dibuka...” Melody tersenyum sumringah, dan angin pun berhembus. To be continued...

0 komentar:

Posting Komentar